Anyeonghaseyo~^_^ Chimin imnida:-) chapter 3 udah nih^^ hehe
jan lupa comment ya!
Title : Twins
Cast : Kim Mingyu, Jeon wonwoo, Jung Eunha
Genre : Romance
Length : Chaptered
DONT BE A SIDER PLEASE AND SORRY FOR TYPOS^^ HAPPY READING
GUYS!
Mingyu POV
Tatapan itu...
benarkah dia Eunbi? Tatapannya tak seperti yang kulihat saat pertama kali
bertemu dengannya. Walau aku berpisah dengannya selama 10 tahun, aku yakin
masih bisa mengenali tatapan Eunbi... tapi, tadi begitu berbeda. Kurasa ada
yang salah darinya. Aku terus berusaha mengingat Eunbi.
“Dia tidak ingat
atau lupa sih?” gumamku. “Kenapa dia tidak mengatakan sepatah katapun tadi?
Sepertinya dia memangsudah melupakan aku...”
Mingyu POV end~
Di tempat lain...
“Eunha, aku ingin
kau menghentika semua kebohongan ini!” kata Eunbi pada Eunha yang duduk di
ruang tamu apartemen mereka.
“Tenanglah Unni,
semua ini akan berakhir dan Wonwoo akan kembali padamu...” kata Eunha tanpa
melihat kearah Eunbi disertai dengan seringaian nya.
‘Kenapa semudah
ini memintanya untuk berhenti? Biasanya ia akan balik membentakku?’ batin
Eunbi.
“A-apa yang kau
lakukan pada Wonwoo?”
“Aku tidak
melakukan apapun. Malah, dia semakin terhanyut dalam permainanku. Percayalah
unni, begitu dia kembali padamu dia akan semakin mencintaimu. Aku akan
mengembalikannya padamu. Karena aku sudah memiliki seseorang.”
“Apa maksudmu?”
“Permainan
baru... dan seseorang yang berarti dalam hidupmu”
Flashback~
Malam itu, Eunha
sedang berjalan pulang. Sangat gelap dan dingin. Ditambah suasana jalan yang
sepi membuat Eunha semakin takut.
TAP! TAP! TAP!
Langkah kaki
Eunha semakin cepat. Tiba-tiba, disebuah persimpangan jalan Eunha bertemu
seorang pria yang sepertinya mabuk. Eunha kaget dan langsung berputar arah
untuk menghindari pria itu. menyeramkan yah? Kalau ketemu orang yang ga
dikenal, apalagi malem-malem? Pria itu menarik tangan Eunha.
“Hey... gadis
cantik... mau kemana hm?” tanya pria itu. membuat Eunha semakin merinding.
“Lepaskan aku!
lepaskan aku! tolong!!!!”
Teriak Eunha. Ia takut. Takut sekali... air matanya mulai
mengalir.
“Hey...
tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Ayo kita bersenang-senang.” Pria itu
merangkul lengan Eunha.
“Tidak ! lepaskan
aku!” tangis Eunha semakin keras.
BUK!
Eunha berusaha
melawan pria itu. setelah berhasil terlepas ia cepat-cepat melarikan diri. Tapi
pria itu mengejarnya dan mendorong Eunha.
BRUK!
Eunha jatuh ke
aspal. Siku dan lututnya terluka. Apa yang harus Eunha lakukan? Eunha menutup
matanya dan menangis. Pria itu mendekat. Dan semakin mendekat.
‘Oh Tuhan,
bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku takut. Tolong aku...’
BUK!
Sebuah(?) sepatu
mengenai kepala pria itu.
“Jangan ganggu
adikku!” seru Eunbi sambil menghampiri mereka.
Saat ini hanya
itu yang ia pikirkan. Ia bingung harus berbuat apa.
“Eunha? Eunha?
Kamu tidak apa-apa?
“Unni, aku takut”
“CCTV, kita harus
mencari tempat yang ada CCTV” bisik Eunbi pada Eunha. Tapi belum sempat hal itu
terlaksana...
Tiba-tiba pria
itu menarik Eunbi dan memukulnya. Eunbi terhempas ke aspal. Ia lalu menjambak
rambut Eunha.
“Eunha!”
Eunbi tak bisa
membiarkan hal itu terjadi. Ia mencari senjata untuk melawan pria itu. Eunbi
mengalihkan pandangannya. Disana terdapat sebuah kayu yang cukup besar. Eunbi
lalu mengambilnya dan memukul pria itu. pukulan itu tepat mengenai bagian
belakang kepala pria itu. Pria itu tersungkur ke tanah. Tubuhnya kejang-kejang
selama beberapa detik. Kemudian berhenti. Ia tak bergerak sama sekali.
“Unni? Apa yang
kau lakukan? Dia...dia mati?”
Eunbi melepaskan
kayu yang dibawanya.
“Aku...aku—“
“Unni, kau
membunuhnya” Eunha terlihat shock. Ia
menangkup mulutnya sambil menunjuk pria itu. Tangan gemetar. “Bagaimana ini?
Apa yang harus kita lakukan?”
“Eunha, Eunha
tenanglah...” ujar Eunbi menangkup pipi adiknya.
“Unni, aku takut”
“Eunha, lihat
aku, tatap mataku. Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku...” Eunbi
memeluk Eunha. “Sekarang, kau harus membantuku. Ambillah semua yang mungkin
menjadi barang bukti. Jangan tinggalkan apapun, oke? Aku akan memeriksa tempat
ini. Kita harus segera pergi dari tempat ini...”
“Unni, tidak ada
CCTV kan?”
“Kuharap tidak.
Tapi, rasanya di daerah sini memang tidak ada CCTV.” Ayo Eunha, kita pergi dari
sini.” Eunbi menggenggam tangan Eunha erat. Dan membawanya pergi.
Flashback end~
“Rahasiamu aman
bersamaku, unni. Selama kau menuruti apa yang ku mau”
Eunbi POV
Aku tau Eunha
sangat shock dengan kejadian itu. Ia
takut sekali saat itu. mungkin ia takkan bisa melupakannya seumur hidupnya.
Begitupun denganku, aku akan selalu terbayang-bayang oleh kejadian malam itu.
aku merasa putus asa. Aku sudah tak sanggup. Aku ingin menyerahkan diri saja ke
polisi. Aku tak sanggup menyimpannya sendiri. Tapi gadis itu... gadis yang
penakut dan manja itu takkan bisa mengurus dirinya sendiri. Aku khawatir
dengannya.. aku selalu khawatir kalau ia pulang terlambat. Aku selalu khawatir
kalau aku meninggalkanya, bahkan untuk sehari saja. Pokoknya aku selalu
khawatir pada Eunha. Ia satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini. Ibuku
meninggal saat melahirkan kami. Sedangkan ayah... meninggal karena kecelakaan
bebebrapa tahun lalu. Aku sempat tinggal di rumah kerabatku bersama Eunha.
Tapi, rasanya kami sudah terlalu besar untuk hidup ditanggung oleh orang lain.
Dan aku memutuskan untuk pindah ke apartemen sederhana ini dan mencari
pekerjaan.. eunha sangat terpukul oleh kepergian ayah. Tak jarang aku
menemukannya duduk sendiri dan menangis. Disitulah aku harus menggantikan sosok
ayah. Aku memeluk dan menenangkannya. Aku lelah... sangat lelah dengan semua
ini. Tapi demi Eunha aku harus bertahan. Air mata yang tak terhitung jumlahnya
dan masa-masa sulitku ini akan berlalu dengan perlahan...
Aku menarik napas
dan menutup mataku.
‘Ayah, ibu,
kuatkan aku untuk menjalani semua ini...’ batinku.
Aku tersadar oleh
dering hape Eunha yang berada tak jauh dariku. Sebuah pesan singkat dari
Wonwoo. Isinya :
‘Sayang,
apa kau sibuk? Jalan sama aku yuk?’
/ini ceritanya Eunbi yang bales tapi dari hape Eunha. Soalnya
nama kontak Eunha di hape Wonwoo itu Eunbi ya. Dan Wonwoo itu gatau kalo mereka
kembar. Jadi ada semacam Eunbi palsu sama Eunbi asli gitu:v/
Aku segera
memberitahu Eunha.
“Unni, kau saja
yang pergi ya? Aku capek...”
“Kau yakin?”
“Iya”
Aku segera
mengganti pakaianku dan pergi menemui Wonwoo.
~o~
“Sayang, apa kau
sakit? Wajahmu agak sedikit pucat” kata Wonwoo sambil memegang pipiku.
“Tidak... aku
hanya kelelahan. Mungkin karena bekerja terlalu keras. Jadi, jangan khawatir
ya?”
“Kau membutuhkan
uang? Mungkin aku dan Mingyu bisa membantumu”
“Tidak... eh,
Mingyu?!”
“Iya, dia teman
sekamarku di asrama. Kami sudah seperti saudara. Dan kami punya sedikit
tabungan. Kalau—“
“Katakan padaku
lebih banyak tentang Mingyu!” aku memegang tangan Wonwoo agak sedikit kasar.
“Uh, ada apa ini?
Bukankah kau sudah bertemu dengannya?”
“Benarkah?”
‘Jadi Eunha sudah
bertemu dengan Mingyu?’ batinku.
“Iya sayaaang...
apa kau tidak ingat hm?”
Aku hanya tersenyum dan mengalihkan pandanganku.
Jadi itu yang
dimaksudnya dengan permainan baru dan seseorang yang berarti dalam hidupku?
Mingyu?
~To be continued~
Kayaknya udah
terlalu panjang ya? Hehe... maafin aku ya kalau FF-nya jelek,,, tapi jangan
bosen baca ya? Aku akan usahain ini cepet selesai biar kalian ga bosen bacanya. Untuk yang belum baca Chapter 1 dan 2 bisa klik disini: Chapter 2 & Chapter 1
Dan makasih ya yang sudah mau baca.
Terima kasih yang sudah baca. Dan yang mau lebih deket sama Chimin, bisa
klik salah satu :
Line : anggaritaa
Dan, like juga akun IG khusus anime Chimin ya^^ IG Anime
like aja gausah di follow gapapa kok^^ Terima Kasih ya~ yang sudah mau baca FF
gaje Chimin<3<3<3 Anyeong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar